BERSIAPLAH UNTUK GEMPA JAKARTA


Jakarta, Ibu Kota Indonesia dihuni 10,37 juta jiwa , terletak di wilayah dengan potensi gempa bumi yang bisa menggoyang Ibu Kota yang memiliki 382 gedung bertingkat yang di dalamnya menampung jutaan pekerja maupun penghuni dalam 24 jam, setiap harinya. Harus belajar dari gempa bumi paling mematikan dalam 100 tahun terakhir: 200.000 warga meninggal dunia dalam gempa Haiti 2010, jumlah terbanyak di Port au Prince, Ibu Kota Haiti. Terakhir, Januari 2018: gempa berkekuatan 6,1 SR berpusat di Samudera Hindia, 61 kilometer dari Lebak, Banten menggoyang Jakarta, mengevakuasi jutaan pekerja dan penghuni gedung tinggi yang tengah bekerja di siang bolong sekitar 13.34 WIB pada Selasa, 23 Januari 2018. Pusatnya di Lebak, 153 km dari Jakarta, kekuatannya 6,1 SR dan mampu menggetarkan bahkan meretakkan ratusan gedung tinggi dan sejumlah hunian. Lalu bagaimana jika Jakarta yang berada di wilayah berpotensi ini? “Kekuatannya masih perdebatan di antara para pakar. Diperkirakan antara 8,1 SR hingga 9 SR,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati kepada BBC Indonesia, Jumat (02/03).

Video: Bersiaplah Untuk Gempa Jakarta

Perkiraan itu tentu tak berharap untuk menjadi nyata, tetapi pengetahuan seharusnya menuntun untuk mencipta: bagaimana cara menghadapi perkiraan itu jika menjadi nyata. Benarkah ini perlu kita persiapkan? Kiranya 2 artikel berikut masing-masing ditulis Trubus.Id dan Humas BMKG berikut:

Trubus.id
Indonesia rawan terjadi gempa karena letaknya yang dilewati oleh tiga lempeng, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Indo-Australia. Hal tersebutlah yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi di Lebak, Banten, 23 Januari lalu.

Pergerakan lempeng inilah yang mengakibatkan Indonesia kerap dilanda gempa bumi. Kekhawatiran muncul berdasarkan sekmentasi Megathrush (dorongan kuat) yang dapat mempengaruhi kerusakan di sejumlah infrastruktur terutama di Ibukota Jakarta.
Kita ketahui bersama, saat ini terjadi peningkatan Megathrust di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Selat Sunda. Namun sejumlah ilmuwan khawatir dengan Megathrust yang terjadi di wilayah Selat Sunda.

“Jika terjadi bisa menyebabkan gempa yang setara seperti gempa Aceh yang menimbulkan tsunami pada 2014 lalu,” kata Drs. Soebarjo, ketua Ikamega Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam acara seminar bertema Gempa Bumi Megathrust M 8,7 Siapkah Jakarta, di Auditorium BMKG, di Jakarta, Rabu (28/2).

Sebagaimana diketahui, jika tanah yang ada di Jakarta merupakan tanah endapan yang dapat menimbulkan besaran amplitudo sangat dahsyat ketika terjadi gempa bumi. Hal tersebut bisa menimbulkan kerusakan sangat parah terjadi di Ibukota.
Untuk itu, ia mengatakan Jakarta harus siap apabila terjadi gempa 8,7 skala richer (SR). Lalu bagaimana cara mengantisipasi datangnya gempa Megathrust di Jakarta?

Soebarjo menyatakan, saat ini kita sedang berjuang untuk melakukan transformatif/adaptasi yang terus berkembang. Artinya, apapun kajian para pakar nantinya dipastikan gempa masih akan terus terjadi.

“Akurasi 100 persen gempa terus terjadi termasuk di DKI Jakarta yang banyak gedung-gedung,” kata Prof. Ir. Dwikorita Karnawati M.Sc, Ph.d kepala BMKG.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kapannya magnitudo atau gempa terjadi di Jakarta masih belum dapat dipastikan. Namun ia menekankan gempa bumi akan tetap terjadi di Jakarta.

“Oleh karena itu pertemuan ini kita bisa mengambil sikap dari ketidakpastian, tapi kita harus pasti dalam bersikap dalam menghadapi gempa,” sambungnya.
Sedimen tanah jakarta adalah tanah lunak atau endapan rawa yang apabila mengalami guncangan gempa akan terjadi getaran cukup kuat. “Jakarta dikepung patahan-patahan aktif dan jika terjadi gempa, kekuatanya sangat dahsyat,” lanjutnya.

Tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan adalah langkah yang lebih kongkret untuk upaya mitigasinya. Dwikorita berharap BPBF dan lembaga lainnya dapat melakukan audit gedung-gedung tinggi di Jakarta untuk mengetahui konstruksinya apakah rentan terhadap gempa atau tidak.

Kepala BMKG tersebut juga mengatakan, jika gempa terjadi diharapkan evakuasi bisa dilakukan dengan tepat dan cepat. “Kami berkewajiban memberikan hak hidup bagi masyarakat di Jakarta ketika terjadi gempa,” sambungnya.

Lebih lanjut Ia juga mempertanyakan apakah gedung-gedung tinggi  di Jakarta sudah memiliki jalur evakuasi yang tepat? 

“Edukasi harus selalu dilakukan karena generasi terus berganti,” tambahnya.
Hingga saat ini patahan buta di Jakarta atau para pakar belum bisa mendeteksi patahan aktif yang bersemayam di dalam tanah Jakarta. [NN]

BMKG
Perlu kita pahami bersama, karena wilayah Indonesia terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif, maka Indonesia menjadi wilayah yang rawan gempabumi.
Oleh karena itu pemerintah (melalui Pusat Studi Gempa Nasional-PUSGEN) dengan didukung oleh para pakar gempa dari beberapa perguruan tinggi, lembaga/kementerian termasuk BMKG, telah menerbitkan buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017” sebagai salah satu upaya dan langkah mitigasi gempabumi di Indonesia.

Peta tersebut merupakan pedoman untuk mendesain konstruksi bangunan di daerah rawan gempabumi, dengan mempertimbangkan percepatan tanah akibat perambatan gelombang gempa.

Peta tersebut diterbitkan bersama buku dengan judul yang sama. Di dalam buku tersebut diinformasikan bahwa berdasarkan hasil kajian para pakar gempabumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust, dan proses penunjaman lempeng tersebut masih terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun.

Selanjutnya, menurut analisis para pakar gempabumi, gerakan penunjaman lempeng tersebut memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan/magnitudo maksimum yang diperkirakan dapat mencapai M 8,7. Maka Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) berinisiatif menyelenggarakan diskusi dengan Pemprov DKI untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi gempabumi tersebut.

Jadi sebenarnya diskusi tersebut dirancang untuk kalangan terbatas, antara para pakar dan pemegang kebijakan, karena membahas hal yang cukup sensitif namun urgen untuk segera dilakukan langkah lanjut, sebagai bentuk tanggung jawab para pakar dalam memberikan layanan keselamatan publik di daerah rawan gempabumi.
Namun ternyata ada beberapa tulisan yang beredar viral, yang kurang tepat dalam menyimpulkan diskusi dalam sarasehan tersebut, sehingga dimaknai berbeda oleh sebagian masyarakat. Oleh karena itu kami perlu meluruskan kesalah pahaman tersebut, sebagai berikut:

Meski para ahli mampu menghitung perkiraan Magnitudo maksimum gempa di zona megathrust, akan tetapi teknologi saat ini belum mampu memprediksi dengan tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya gempa megathrust tersebut. Kita pun belum mampu memastikan apakah gempa megathrust M8,7 akan benar-benar terjadi, kapan, dimana, dan berapa kekuatannya? Maka dalam ketidakpastian tersebut, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang tepat, menyiapkan langkah-langkah kongkrit yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar-benar terjadi, khususnya dengan cara menyiapkan kesiapan masyarakat maupun infrastrukturnya.*

Jakarta, 2 Maret 2018
Biro Hukum dan Organisasi
Bagian Hubungan Masyarakat BMKG

Juru Bicara BNPB dalam cuitan twitter:
Sutopo Purwo Nugroho
@Sutopo_PN
Potensi gempa 8,7 SR tidak akan terjadi di wilayah Jakarta. Tetapi potensi itu ada di Selat Sunda bagian selatan dan selatan Jawa. Jika itu terjadi akan berdampak di Jakarta. Tingkat kesiapsiagaan pemda dan masyarakat Jabodetabek masih rendah dalam menghadapi gempa besar.
9:39 AM – Mar 3, 2018

Lalu apa yang harus disiapkan? Dari sejumlah sumber, stakeholder mengidentifikasi beberapa hal:
1. Pemerintah memperketat regulasi terhadap bangunan: melengkapi sarana tanggap gempa.
2. Membangun taman hiburan dan edukasi, melakukan earthquake drill dan bekerja sama dengan BMKG untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
3. Meningkatkan anggaran BMKG yang tugasnya sangat besar terutama dalam pemeliharaan peralatan BMKG di Jakarta.

Tetapi apakah 3 hal itu dipahami warga biasa dalam menghadapi bencana gempa ketika sedang berada di gedung tinggi? Tentu butuh proses. Maka perlu adanya langkah mudah menghindari akibat seperti yang timbul dalam gempa Haiti: memastikan individu menyelamatkan diri dengan mudah, aman, dan selamat. Ada beberapa cara yang dicatat Rappler jika gempa terjadi dan kita sedang berada di gedung bertingkat:
• Bagi yang berada di dalam gedung, secepat dan seaman mungkin keluarlah dari gedung setelah gempa berhenti. 
• Jangan memakai lift dan hindari bagian gedung yang rusak. Jangan menggunakan telepon kecuali sangat penting.
• Biasanya di gedung-gedung pencakar langit sudah disediakan prosedur keselamatan melalui tangga darurat. 
• Ketahui di mana letak tangga darurat di gedung tempat Anda berada.

Tapi cukupkah langkah-langkah itu dilakukan? Bagaimana persoalan panik yang kerap berakibat fatal, pikiran yang tidak jernih justeru kerap menjadi pemicu orang tidak selamat dari proses evakuasi saat gempa bumi terjadi. Coba gunakan jari kita semua, sekarang, ketik di Google: tips selamat saat gempa. Maka di sana akan ditemukan banyak sekali artikel yang menempatkan: JANGAN PANIK, di urutan nomor satu berbagai tips selamat saat gempa.

Jangan Panik, itu kunci selamat dari bencana gempa. Jangan panik bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Saya menyebutnya: woles, yang dalam Kitab Gaul berarti santai atau selau. Selau, santai, woles, bukan berarti diam, pasif. Woles di sini mengajak individu untuk tidak panik, berpikiran jernih, siap dalam keadaan darurat, dalam keadaan sangat sulit tidak putus asa. Ketergesa-gesaan akan membuat orang tidak berpikiran jernih, tidak siap, menjadi kalang kabut, akhirnya tidak selamat. Jadi, Woles, Biar Selamat!))

SUMBER:
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/24/berapa-jumlah-penduduk-jakarta
https://tekno.tempo.co/read/1108498/kuartal-1-penjualan-bulanan-smartphone-honor-naik-100-persen
https://www.medcom.id/properti/news-properti/8KyvMq3N-jakarta-kalahkan-dubai
https://internasional.kompas.com/read/2017/09/09/09112691/inilah-11-gempa-terbesar-dan-paling-mematikan-dalam-100-tahun-terakhir
https://www.antaranews.com/berita/170456/mengapa-gempa-haiti-membunuh-begitu-banyak-orang
http://news.metrotvnews.com/peristiwa/8Kyvge2N-titik-gempa-berada-di-153-km-dari-jakarta
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180123142428-192-270966/netizen-laporkan-bangunan-retak-usai-diguncang-gempa
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43254735
https://news.trubus.id/post/siapkah-jakarta-menghadapi-gempa-bumi-megathrust-m-87-7617
https://www.bmkg.go.id/berita/?p=megathrust-mengancam-jakarta-uno-ingin-kerjasama-dengan-bmkg&lang=ID
https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/mengenal-gempa-megathrust-dan-upaya-mengantisipasinya
https://www.rappler.com/indonesia/104811-jangan-panik-gempa-berlindung-rumah-gedung
http://blog.mizanstore.com/tips-aman-menghadapi-gempa-1-jangan-panik/
https://kitabgaul.com/word/woles

BELAJAR TENTANG TUAN RUMAH


Gempa Lombok, tahun 2018 bukan hanya menyisakan luka secara nasional, tetapi menciptakan doa internasional ketika perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta yang mengajak dunia yang tengah menonton mengingat dalam doa derita warga Lombok. Selang 29 Juli hingga 30 Agustus 2018, BMKG mencatat 1.973 kali NTB diguncang gempa; mulai yang terbesar dengan kekuatan 7 SR hingga gempa susulan sedang dan kecil mencapai ribuan kali. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB: guncangan di NTB ini meruntuhkan berbagai sendi kehidupan; 396.032 jiwa terserabut dari kehidupan sosialnya karena harus menjauh dari rumah agar aman, tinggal di tenda-tenda yang serba terbatas dalam memberikan kecukupan kebutuhan dasar. Dari yang ratusan ribu tadi, 540 jiwa tak beruntung melanjutkan hidup; meninggal dunia tertimpa bangunan maupun longsoran. Pemerintah mencatat 83.392 rumah rusak dan tentunya harus direhabilitasi. Sementara sejumlah 1.469 jiwa tengah berjuang untuk pulih dari cidera di rumah-rumah sakit di seluruh NTB. Akhir dari semua derita tadi, pemerintah kini bertugas memulihkan kerugian yang dihitung sekitar 8,8 triliun rupiah.

Video: Menghadapi Gempa Bumi: Woles Biar Selamat!

Luka Lombok, luka NTB, luka bersama. Itulah kesatuan kita sebagai sebuah bangsa. Namun kita belum banyak belajar dari saudara di Aceh, di Yogyakarta, di Sumatera Barat, di Mentawai. Jika dihitung, pernah ada sejarah ratusan ribu jiwa darah Indonesia yang pernah menjadi korban di tempat-tempat tadi. Kita pernah belajar, tetapi belum memprioritaskan. Ada lebih 500 nyawa melayang, artinya harus menjadi awal untuk kesekian kali bersiap diri, semakin serius belajar: bencana dapat datang kapan saja, ia tidak pernah permisi, tapi kearifan kultur kita biasanya belajar bagaimana dia memberi firasat, lalu tinggal bagaimana membiarkan ia datang, tanpa kita tidak harus menjadi korban.

Video: Wawancara Carlos Michael di BeritaSatu TV dengan Surono, Mantan Kepala Geologi, Surono berkali-kali menekankan kita sebagai warga adalah tamu dan harus memahami tuan rumah. Analogi Surono yang pas menggambarkan antara alam dan manusia.

Selalu mengingat perkataan Mbah Surono, mantan Kepala Badan Geologi yang selalu bilang begini: “Alam lebih dulu ada, kita yang datang bertamu. Kita harus terima jika tuan rumah harus menyapu”. Jika kita bertamu, maka kita harus mengenal tuan rumah. Maka gempa bumi, ataupun pergerakan alam, marilah menghayatinya sebagai aktivitas rumah tangga alam. Alam harus bergerak, maka sebagai tamu kita harus tahu apa langkah kita saat alam ingin bergerak. #Kenalibahayanyakurangiresikonya. Mengenal tanah tempat kita berpijak artinya memahami ada apa di dalam sana, memahami bahwa pijakan ini bukan milik kita, ia ada untuk dirinya sendiri: ia adalah alam, dan manusia hanya bagian terkecil dari harmoni yang tertata di dalamnya. Warga NTB ataupun kita seluruh kaki yang berpijak di tanah air yang memiliki resiko bencana yang besar ini harus semakin belajar: bagaimana cara kita membangun rumah agar tahan gempa, bagaimana kita paham cara menyelamatkan diri. Tak ada nyawa yang melayang, apalagi di zaman modern dengan kecanggihan teknologi semacam ini, jika kita mengenali tanah tempat kita berpijak.

Indonesia yang kaya ini, menjadi sempurna karena kita punya warisan kearifan, filosofi hidup dan kebudayaan yang terbentuk dari cara turun menurun manusia bangsa kita dalam mempertahankan diri. Zaman boleh berubah, tetapi lalu kearifan membangun rumah tahan gempa lantas ditinggal. Zaman boleh berubah, tetapi lalu warisan budaya untuk gotong royong, saling mengingatkan menjadi terabaikan. Kearifan itu buah kebudayaan, buah kebiasaan yang dihidupi dengan penuh kesadaran oleh nenek moyang bangsa. Budaya sadar bencana sebenarnya terkandung dalam kearifan-kearifan itu, maka tak ada nyawa melayang jika kearifan itu bisa menjadi pedoman bagi kita untuk mengingat kembali ajaran leluhur dan semakin mengingat pentingnya #budayasadarbencana. Sebagai tamu, kita harus sadar, bencana akan datang, tuan rumah akan bergejolak, dan tamu harus berpindah, tamu harus mengalah. Sadar diperlukan, maka dengan begitu kapanpun kita siap. Kerendahan hati terhadap alam, mencintai alam, belajar karakternya, mengalah kepada aktivitasnya akan membuat kita #siapuntukselamat.

NTB tidak akan menjadi akhir dari sang Tuan bergerak sesuai tuntutannya, tetapi semoga NTB menjadi akhir dari adanya data memprihatinkan banyaknya nyawa melayang karena kita tidak belajar mendalam kepada alam.

Carlos Michael Kodoati. 2018.