BANGUN PADA KESEJUKAN SIANG BOLONG


Kaki kecil mungilnya menginjak pada dua sandal ruangan berwarna orange yang diambilnya dari Oria di Jeckien’gohff. 

Lututnya terlihat putih dengan bulu bulu halus dipadan celana tidur pendek garis garis.

13.44 waktu di Jeckien’gohff.

Ia bablas, karena suhu ruang 17 derajat celsius, dalam kamar yang ditatanya sangat rapih dan nyaman.

Perutnya keroncongan, tapi ia hanya melongkok di sisi kiri ranjangnya, pada tumpuan kaki yang sama, kepada gorden hijau yang masih memisahkannya begitu jauh dengan alam siang di luar kamar.

Samar samar di belakang sama ada lagu ballad dengan syair cinta

“Biarkan kini ku berdiri melawan waktu tuk melupakanmu walau pedih hati namun aku bertahan”,

Ya dari penyanyi Glen Fredly,

Lalu tiba-tiba hening pinggiran ranjang itu tercemar suara whatsapp berentetan dari Iphone

“Halo apa kabar sayang, kamu ga ada nanyain apa apa ke aku, kan aku juga pengen ditanyain kabarnya”,

Dari pria yang baru saja menidurinya semalam,

Malam yang berawal dengan tangisan sang pria yang tiba tiba menetes air mata bagai bocah, karena merasa diabaikan, tetapi malam akhirnya menjadi panjang, tampaknya mereka mulai menyayangi, semalam mereka bersetubuh dan tampaknya cinta itu belum terlalu kuat, perlu diperjuangkan, supaya kuat dihantam bagai karang dilautan.

“Kamu apa kabar?”,

Tanya itu mengakhiri siang bolong yang sejuk di pinggiran ranjang, sang semampai bangkit dan meraih sarapan siangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s