Ia bagai kembali ke era empat tahun silam,

Waktu itu, ia pernah terbungkus tulang, tidur saja demi melupakan rasa lapar, iya, lalu dia menjadi seorang guru lepas, dan ia mampu mendapat uang untuk makan, tetapi itu masa masa sulit, dimana ia menyebutnya sebaga “Pinggiran Timur”.

Kini empat tahun setelahnya,

Memang tak lagi sama, karena ia merasakah betapa banyaknya mata uang yang disetor ke rekeningnya, tapi ia belum sanggup menyimpannya untuk kemudian mengidentifikasi dirinya mapan.

Ia melahirkan hutang dari tanggung jawabnya sebagai anak, dari kebaikan budinya untuk kaum papa, atau untuk keberlangsungan gengsi juga, dan ia kembali ke masa masa tidur demi melupakan rasa lapar.

Ia harus menunggu, bahwa dia disadarkan, harus ada masa masa tidur itu, mata uangnya harus dikorbankan untuk melunasi hutang itu, agar tidak menumpuk dan masa baik akan kembali datang, bahwa nantinya bahkan itu akan menjadi sangat baik, dengan kekuatan yang Ilahi dan kesabaran sang perut dan mata.