KESANA KESINI


Moze

Anak kampung itu

Bukan anak kaya 

Ke Tomohon ia menjadi yang pertama di kelasnya

Ke Bandung ia meraih dua kecakapan

Pernah tahunan bertapa di Kumara dan Acirwada latihan awal di kaki Ciremai dan melanglangbuana hingga Tebingtinggi, merasakan martabe Siantar hingga rica rica babi ala inang Saribu Dolok, di hutan hutan karet Batubara sampai ke dinginnya Berastagi dan Kabanjahe, masukan kepala melihat dasar Toba, menyusuri monumen terhormat di pesisir Samosir

Gagal jadi petapa ia malah ke tanah penjajah, dapat ilmu yang antar dia ke pewarta jalanan

Jakarta menampungnya

Jalanan dan hingar bingar jadi santapan paginya

Ia kadang melontar kritik 

Tak takut ada yang bogem, terserah saja

Tak mau makan waktu ia kerja dengan cepat

Ke Kalimantan, ia minum air Kahayan

Mengulik gambut hangus yang dibakar kroni Orde Baru

Berjuang menebalkan bungkusan kulit agar dapat posisi sulit

Dulu buangan kini rupawan

Mulai dihitung sebagai utama

Cakap mengarangnya jadi utama

Mengantar keliling nusantara

Ke Aceh seruput kopi hangat dua kali dipeluk Tanah Rencong menyusur memori tanah terujung dalam duka lampau gelombang raksasa 

Disambut keheningan pulau dewata menyusur petang nan dingin di Danau Beratan menyusur Singaraja hinga Buleleng, nikmati kuasa sang Hyang bahwa surga itu indah

Kunjung ke tetangga Serang legendaris, banyak ratu dan keterbelakangan, jaraknya dekat dari Jakarta, tapi sang Ratu masuk bui sebelum rakyatnya makmur bagai cerita kerajaan

Jarang terdengar, disitu Pak Karno pernah persunting penjahit bendera bangsa: Bengkulu dengan keramahan dan kecantikan Ibu Fat

Banyak ditemukan di Pasar 45, itu kampung ipar dan tetangga pernah jadi saudara: Gorontalo dan jagungnya tapi tak kalah berkesan menara eiffel dan pia temo nya

Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, dan kini Jambi masih sembilan, makannya lahap agak melayu, tapi Jambi tuk pertama kali

Ke Bandung sudah biasa, disana mendapat cakap, tapi sekali ini ke bendungan purba, ujung pergerakan seantora nusa

Ke Semarang lalu ke Solo, singgah sejenak di Magelang, tengok sedikit ke Mertoyudan, jantung Jawa memang menawan

Dewean, ke Surabaya, dalam tangis dan senang tak kali ini saja, di sana Pinggiran Timur pernah tercipta berlanjut Gresik ke Pasuruan, memacu roda beli Telo di pinggiran Malang terus sisir selatan hingga Banyuwangi balik arah ke arah Tengger menjumpa dewa di barisan Semeru

Menjumpa Enggang di Pontianak, panasnya semangat

Berpindah ke selatan duduk berjejer di atas sungai, nikmati Banjar dan batiknya

Kembali ke Palangka teringat Kahayan, masuknha dari Bun, pangkalan tanah putih

Meloncat ke Balikpapan untuk kesekian kali, nostalgia muda Bapak nakalnya disini

Bertolak memandang langit Tanjung Selor nan utara, ternyata mendarat di Tarakan

Melanjutkan ke negeri Laskah Pelangi, juga ke pantai Ahok dibesarkan

Lalu malam menjadi mewah di pandang seberang negeri Singa, Batam nan menawan

Lanjutkan ke Lampung kota eksotik namun terhalau hingar bingar

Akhirnya tiba di Ambon manise disambut gerimis yang semakin manis

Hingga ke Ternate yang banyak ikan, pesan hiasan disini murah

Saatnya susuri Nusa, ke Kupang tanah karang menawan hingga ke Tablolong pandang lautan biru surga memanh sembunyi

Lombok memang eksotis, tapi tiba di rumah santri, semalam tanpa pantai lalu berlalu

Lalu Riau hanya sehari, Pekanbaru masih berasap

Dan Mamuju jadi awal pulang kampung, laut ya oh menawan dengan adat terjaga

Rebahkan diri di Makassr, santap coto terenak sejagat dunia

Lalu ke Kendari disambut jalanan bekas terjangan air dengan jembatan rusak disana sini

Akhirnya tiba di Kota Palu, pernah disini puluhan tahun lalu, bersama Empu, naik bus hingga pantat gempor

Akhirnya tiba di kampung halaman, sehari habiskan tidur seranjang Empu, ternyata ia mati tahun berikutnya

Tahun yang berlanjut pada menawannya Padang, negeri Tuah Sakato

Makan ikan di atas perahu, perahunya memandang Jembatan Ampera, Palembang menawan dialiri Musi, kembangnya tak dilupa hingga mati

Akhirnya Yogya tentramkan hati, berujung ke Papua tanah terjanji

Untung selalu datang bawa ke negeri singa hingga negeri pak cik, jembatan kembali ke tanah Belanda, melihat memori masa Eropa, saat dinginnya Belgia hingga eksotisme kota abadi dan Sisilia

Tiba sudah di Lima, bukan angka tapi Eropa di Selatan Amerika

Nafas pendek namun takkan terlupa di Machu Picchu capaian tertinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s