RATAPAN MOZE


Namanya Moze

Ia beriman sejak sebelum sperma dan ovarium

Hanya diam

Diam

Dalam bilik

Lalu alas dari sandal tua menyambut kakinya

Terdengar hanya gesekan antara alas dan lantai

Langkah yang perlahan

Terasa seperti berat

Langkah itu terdengar hanya satu dua tapak lalu berhenti

Lalu ia melanjutkan lagi dengan ritme yang sama

Akhirnya terdengar pintu terbuka

Dan suara memecah keheningan bilik

Aaakhhhhhhh

Cukup

Kekelaman sudah coba kutebus dengan doa

Dengan kesabaran

Dengan tangis

Dengan kulit berbungkus tulang

Lalu saat bahagia datang dari barat

Derita lalu muncul dari timur

Dan saat kau ambil ayah ibuku

Lalu semua seakan sebuah takdir

Dari kekurangan kupersembahkan sebuah ketulusan

Mencoba menunai langkah meski berat demi syukur

Kembali tunaikan tradisi hingga tuntas

Lalu tak pernah ada yang kusebut

Bahwa langit harus menurunkan hujannya yang lebat

Tidak

Sejak mengerti kuasa alam

Dari situ sajalah kuharap hidup memang berputar dan berjalan

Lalu aku tiba

Tiba pada semua terasa tanpa jawab

Ini itu bisu

Bahkan selamat pun tak ada

Lalu siapa yang berani mengatakan dirinya juruselamat

Lalu pintu tertutup

Kembali suara alas kaki

Kini semakin berat

Semakin menyatu dengan lantai

Seakan terseret seret

Ia tidur

Pada doa barunya

Kepada dirinya sendiri

Tak lagi kepada penyelamat

Yang selama ini disebut saat susah maupun senang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s