Langkah riangnya berhenti

Tetiba tubuhnya berada di belukar

Sakitnya bagai langit tengah runtuh menimpah bumi

Vaginanya: kehormatan yang diciptakan alam untuknya agar dipuja sebagai Empu

Berdarah

Robek

Menyakiti miliaran pembulu ke otak, hati bahkan rasa

Kepasrahan yang pasti hanya diratapi setetes air di kelopak

Air mata yang pasti tak sempat menetes dengan mata ternganga kosong penuh hati yang luka

Ia terlanjur mati sebelum tangisan itu ada

Bukan lagi vagina dan organ terhormat di tubuhnya yang hancur

Jiwanya hancur

Jiwanya tak berjejak

Sebuah derita tak terkata

Tubuh Yuyun tetap di belukar dalam bisu disaksikan purnama

Kebisuan dari hingar anjing anjing yang baru menjilat jilat kehormatannya yang mungil

Kebisuan yang baru berlangsung di bawah mentari yang harusnya menuntunnya tiba di rumah

Ia baru mati, matinya karena usai menampung nafsu jalang anak manusia

Ia baru mati, matinya tak sewajarnya perawan habis diintimi di malam keramat perkawinan, menikmati hidup dewasanya, menggendong anak, merasakan cucu dan mati di kasur yang nikmat

Tidak

Yuyun

Dia gadis kecil

Keperawanannya masih panjang

Keriangannya bukan di atas belukar

Kebahagiaannya ada di bahu ayah ibu

Dia mungkin Ibu dari seorang pemikir hebat

Ah itu mimpi

Toh Yuyun sudah mati

Mau apa kau?

Apa pedulimu?

Bisakah mengembalikan kematian?

Toh Yuyun sudah mati

Lalu apa?

Toh Yuyun sudah mati