Kopi

Sendiri

Nikmat

Ia menikmati

Atmosfer individu dalam keramaian kedai

Kontemplasi kopi

Duduk dengan secangkir kenyataan melambung jauh dalam urat urat kreasi

Bergumul dalam angan

Menari dalam rangkai asa

Menyusun realita

Melupakan waktu waktu

Menyederhanakan jam sebagai detik

Menemukan batin sebaik para biarawan tua dalam semedi

Menganggap bangku bangku kedai sebagai makam di belakang kapel tua

Mendengar alunan musik sebagai lantunan completorium

Merasa hawa ruang sebagai kesejukan pegunungan pagi sebelum adzan subuh

Ruang ruang menjadi lantai meditasi

Temukan diri

Mengantarnya pada kemurnian pikiran

Jauh dari kepura-puraan

Jernih meski berada di hilir

Hening meski di pasar

Lelaki kopi, tenang meski sang cinta bagai jeram