Sebenarnya,

Hidup itu sederhana,

Sesederhana Adam dan Hawa saat di Taman Firdaus,

Segala disediakan dan segala ada,

Menjadi tidak sederhana, ketika hidup digoresi warna keinginan.

Keinginan-keinginan untuk melebihi yang lain, bahkan sang pemilik taman.

Saat terjatuh dalam dosa, para teolog kemudian menyebutnya sebagai kejatuhan karena kesombongan.

Apakah akan terus jatuh?

Tentu bisa untuk tidak.

Tak ada yang keras, karena Tuhan menciptakan manusia dari liat yang lembut.

Tuhan tidak menciptakan manusia dari bebatuan yang sulit dilebur.

Lembutnya tanah liat itu ditujukan Tuhan agar air mampu mengubahnya dalam bentuk apapun.

Jika ada Tuhan disana, maka perubahan itu adalah keinginan Tuhan agar cinta Tuhan bagi dunia benar benar terwujud.

Sederhana, Tuhan ingin bahwa manusia bahagia dengan sederhana,

Kerendahan hati dan mampu mengatakan iya kepada kehendak baik sesederhana ketika Tuhan menyiram air kepada Tanah.

Sesederhana itu Tuhan mencipta, dan ia mencipta dengan kerendahan hati.