HARI KEMATIAN TAMBI


Berita tambi sakit sudah kudengar sejak bulan lalu. Faktor usia adalah penyebab nenek dari pihak mamaku itu harus terbaring di rumah sakit. Karena kesibukan pekerjaan, aku belum sempat menjenguk beliau. Padahal mamaku sudah sejak berita tambi sakit, langsung pulang kampung, di sebuah desa yang jauh sekali dari Palangkaraya.

“Dari semua cucu tambi, kamu yang selalu ditanyakan, Sakti…,” lapor mama di telepon berapa hari lalu.

“Iya, Ma… Aku usahakan minta cuti dalam waktu dekat ini deh,” jawabku mencoba memberi kelegaan yang kuharap bisa diteruskan ke tambi.

Bersamaan dengan itu, anganku beralih pada masa kecil ketika nenekku tercinta itu jauh-jauh datang dari Kalimantan demi menengok cucu tercintanya ini yang baru lahiran ke dunia beberapa hari sebelumnya. Zaman segitu, transportasi pasti belum semudah dan secepat sekarang. Tapi, tambi ternyata bisa datang tepat waktu seperti yang dijanjikan. Nyaris setahun lebih tambi bersama aku kecil dan keluarga, menemani mama yang waktu itu memang masih harus membagi perhatian untuk dua orang kakakku yang lain.

Akh.

Tambi yang berusia tua itu saja bisa meluangkan waktu, masa aku tidak? Demikian kegalauan menyeruak dalam hatiku. Pekerjaan akhir-akhir ini memang sungguh menyiksaku. Apalagi dengan tambahan dari pusat dengan alasan jelang akhir tahun. Huf… Week end saja harus kupakai demi untuk menyelesaikan segala tugas. Susah sekali mendapatkan waktu sejenak agar bisa beristirahat.

Badan sudah terasa penat sekali.

Belum kepala dan mata. Kalau mereka bisa bicara, mungkin sudah meminta ampun berulangkali karena paksaan atas pekerjaan ini.

Tapi, sakitnya tambi ini sungguh menyita pikiranku sekarang.

Ada dorongan untuk segera meminta izin kepada atasanku dengan alasan demi nenekku tercinta. Aku ingin bisa memenuhi keinginannya sebelum segala sesuatu yang mungkin terjadi.

Maka, selepas satu kerjaan ini, kujadikan niat itu untuk bicara dulu kepada atasanku.

^^^^^

 

Di arlojiku menunjukkan pukul 05.40 ketika mama memberitahu bahwa tambi sudah dipanggil Sang Pencipta. Aku pun langsung terlonjak lalu mencoba menenangkan diri.

Ya Tuhan… Kenapa tambi cepat sekali pergi.

Baru kemarin aku menghadap pimpinan untuk meminta cuti supaya bisa membezuk tambi di rumah sakit. Ternyata sekarang sudah berganti kisah.

Kegalauan semakin menggelayut di dada.

Segala rasa seperti menyelinap tanpa permisi. Aku termangu, diam di pinggir ranjang. Pagi yang mulai meninggi tidak bisa menyadarkanku atas hari baru yang telah tiba.

“Segera pesan tiket pesawat hari ini, Sakti. Tambi akan dimakamkan besok sambil menunggu anak-anak dan cucunya yang lain.” Tulisa mama di WA. Aku pun segera tersadar lalu segera mencari tahu kemungkinan bisa mengejar pesawat hari ini.

Soal izin pimpinan?

Ah… Secara informal aku sudah bicara kemarin. Sebentar ini aku akan menelpon beliau atas kondisi ini. Pasti beliau bisa mengerti.

Kulakukan semua demi tambi.

 

Semesta merestui.

Bos memberi izin bahkan menyatakan turut berduka cita dan tiket pesawat tidak susah-susah perlu kucari. Langsung dapat. Maka segeralah hari terasa cepat berganti waktu dan lokasi berpijak.

Aku mencoba menikmati termasuk ketika sampai di rumah tambi, aku langsung disambut pemandangan sebuah peti mati dan jasad kaku di dalamnya.

Tambi.

Di sisi peti itulah tak tahan air mata jatuh di pipiku.

Salah satu orang yang aku sayangi ini ternyata sudah tak mampu menahan segala sakitnya. Ia yang kata mama selalu menyebut namaku akhirnya menyerahkan segenap hidupnya kembali kepada sang penciptanya. Meski itu berarti tak berhasil mewujudkan satu keinginannya.

Bertemu denganku untuk terakhir kali.

“Tambi itu ingatannya bagus. Nggak pikun. Tapi, yang paling berkesan pas kamu waktu kecil. Makanya dia ingin sekali bertemu denganmu mungkin karena saat itu ingatannya kembali saat kamu masih kecil itu, ” ujar mama di samping merekuhku.

Aku jadi tahu, kenapa air mata ini malah makin deras membasahi pipi. Bukan sekadar penyesalan tidak bisa menemui tambi selama sakit, rupanya ada anganku kembali ke masa lalu. Masa dimana tambi begitu telaten merawatku. Kami selalu bersama, seolah tak dapat dipisahkan. Aku sangat menurut pada tambi. Apa pun yang dibilang dan diajarkan, aku turuti. Rasanya jarang sekali aku membuatnya menangis.

Sampai ketika tambi harus kembali pulang ke kampung halaman.

Aku ingat sekali, aku menangis tiada henti. Saat itu aku sudah mulai bisa jalan maka sempat aku mengejar tambi, menangis lalu memegangi kakinya dengan kuat sehingga ia tak bisa berjalan.

Segala daya upaya mama untuk membujukku sia-sia saja. Hingga akhirnya papa yang hendak mengantarkan tambi ke bandara memperbolehkanku ikut. Dengan catatan aku tidak rewel dan nanti harus mempebolehkan tambi pergi. Aku bersedia. Jadilah, mama yang semula tak hendak ikut mengantarkan, mau tak mau ikut pula mengantarkan.

Rumah panjang, khas Kalimantan milik tambi ini mulai ramai dengan banyak orang yang melayat.

Rumah lama peninggalan leluhur ini sebenarnya sudah banyak modifikasinya. Tidak seratus persen berbentuk rumah panjang lagi seperti yang diketahui banyak orang selama ini. Tapi, rumah ini masih tetap menunjukkan ciri khas sebuah rumah tradisional Kalimantan. Walau tidak sering juga kemari, tiap kali ke rumah ini, aku merasa diingatkan lagi jati diriku sebagai anak dayak asli yang tidak akan pernah luntur.

Dari semua pelayat yang datang, kebanyakan dari mereka memang orang kampung yang mengenal baik tambi. Menurut cerita mereka, tambi itu orang yang sangat baik. Mengasihi sesama manusia, tanpa melihat latar belakangnya.

Pernah katanya, tambi kedatangan seorang anak muda. Ia hendak meminjam uang kepada tambi. Kalau kepada orang lain, anak muda itu pasti akan dinasehati panjang dan belum tentu keinginannya terwujud, tapi tambi segera memberikannya. Pesannya supaya uang itu digunakan sebaik mungkin, sesuai keperluannya dan meski tidak ada batas untuk dikembalikan, tambi ingin anak muda itu tetap menepati janji untuk mengembalikan supaya bisa dibuat membantu lagi kepada yang lain.

Nah, soal mengembalikan uang, tambi memang jagonya.

Ia sangat hapal jumlah yang dipinjam, nama dan orang-orang yang pernah meminjam uang padanya. Walaupun banyak diantara mereka yang mengembalikan hutang tidak tepat waktu, tapi dengan kelebihannya ini menjadikan tambi malah disegani yang akhirnya membuat mereka segera melunasi hutangnya kepada tambi.

Aku sedikit terkekeh mendengar cerita tersebut. Tapi, bangga juga mempunyai seorang nenek yang memiliki kharisma tersendiri sehingga mampu disegani orang begitu.

Seorang laki-alaki paruh bayah melintas dari tempat dudukku bersila. Nampaknya ia baru saja sampai ke sini. Langkahnya tergopoh menuju tempat peti mati di depan.

“Dia Om Pujo, suaminya almarhum Mani Tita,” bisik papa di telinga kananku.

Aku mengangguk-angguk. Om Pujo ini jarang sekali datang dalam acara keluarga terutama sejak istri tercinta yang merupakan adik mama kedua meninggal dunia karena kanker berapa tahun lalu. Aku sampai lupa saking lamanya.

Sempat kudengar, ia sudah menikah lagi dan menetap di Solo.

Kalau hari ini dia masih mau datang ke sini walau sebenarnya sudah tidak  berhubungan langsung lagi dengan keluarga almarhum istrinya, membuatku salut. Hebat. Menantu yang sungguh mengerti posisinya sampai kapan pun.

“Tadi, papa sudah bilang ke dia supaya nggak perlu kemari. Tapi, Om Pujo bilang sudah di bandara. Ya sudah..,” jelas papa seperti membaca jalan pikiranku.

Sekali lagi aku menangguk-angguk.

Kekaguman, ku simpan sendiri saja.

Rangkaian atas hari kematian tambi berlanjut hingga malam. Besok pagi-pagi sekali kami akan ke pemakaman keluarga yang letaknya kurang lebih 2 jam dari rumah ini.

Sembari menunggu waktu itu, ternyata orang yang berdatangan makin banyak. Bahkan saat tengah malam, sama dengan daerah lain, kami diminta untuk berjaga-jaga. Selama waktu itu, tetangga sekitar menemani kami untuk berjaga bahkan membantu menyiapkan segala sesuatunya.

Setiap kali ada saudara yang baru datang, kedatangan mereka pun disambut dengan hangat. Kadang obrolan mereka memang tidak jelas kumengerti sebab menggunakan bahasa sini. Namun, kalau dari wajah dan tanggapan yang datang, terlihat kebahagiaan dan sukacita, rasanya mereka memang diterima dengan tangan terbuka dan kedekatan sebuah keluarga besar.

Beberapa kali aku harus mengernyitkan kening ketika diingatkan yang datang atau orang yang ada di sekitar kami. Sekian lama tidak ada pertemuan mata, bisa mengurangi sedikit demi sedikit ingatan di kepala ternyata.

Untungnya, dengan segala keakraban diantara kami, semua itu melebur kembali dalam arti sebuah persaudaraan. Aku jadi betah dan tak `menyesali berada di keluarga besar ini.

^^^^^

 

Pemakaman tambi hari ini diwarnai dengan biru langit menyerta semesta. Tidak ada noda mendung sebagai tanda akan turun hujan. Langit benar-benar bersahabat bersama para pelayat dan keluarga besar tambi.

Dari prosesi hingga peti masuk ke liang lahat, nampak diberi kemudahan dan kelancaran. Matahari yang sempat terik, saat peti itu masuk ke liang lahat seperti meranum agar udara sekitar tidak menjadi penghalang prosesi ini hingga berakhir.

“Selamat jalan, tambi… Terimakasih untuk kasih sayangmu selama ini,” kutaburkan bunga setaman warna warni yang telah disediakan. Di sebelahku persis mama dan mina tersedu-sedu sembari menaburkan bunga juga. Seorang kerabat yang kusebut tambi juga nampak memegangi salib sebagai batu nisan. Mulutnya berkomat-kamit seperti doa dengan bahasa daerah.

Sekian lama kami berdiam di pemakaman ini.

Para pelayat yang jumlahnya ratusan ini satu-satu mulai meninggalkan pemakaman. Wajah-wajah sedih itu seperti tetap membawa tambi dalam doa mereka. Kesedihan ditinggal orang tua seperti tambi bukan menjadi alasan mereka untuk tidak meneruskan hidup.

Demikian juga dengan keluarga kami.

Seiring siang yang kian meluruh, kami segera meninggalkan pemakaman itu sebelum lebih malam. Malam nanti ada doa khusus buat tambi di rumah. Kami semua diharapkan bisa membantu keluarga di sini untuk menyiapkannya.

Sengaja aku minta cuti hingga 3 hari kematian tambi.

Selain sambil mengikuti doa yang diadakan, juga sebagai caraku menghormati tambiku tersayang. Aku tak bisa memberikannya apa-apa lagi selain serangkaian doa serta tanda cinta lewat keberadaanku di sini.

Sembari menunggu waktu doa, kuisi hari-hari ku di sini dengan sebentar berkeliling kampung dan halaman dan sempat ke kota. Saudaraku yang tinggal di sini sengaja membawaku ke beberapa destinasi wisata yang bahkan aku baru tahu. Sempat mencengangkan mata. Tak kalah indah dari tempat-tempat lain yang pernah kukunjungi atau kubaca di banyak media masa.

Tapi…. Diantara semua tempat yang membuatku betah berlama-lama ada ada satu tempat favorit yang bisa tiap hari kudatangi. Tidak jauh bahkan tidak perlu mengeluarkan dana untuk menuju ke sana.

Tempat itu adalah persis di depan rumah tambi.

Sebagaimana lokasi berdirinya rumah di sini yang tak jauh dari sungai, tak jauh dari tumah tambi, ada semacam dermaga dari kayu untuk melabuhnya kapal-kapal kecil seperti getek.

Di ujung dermaga kayu itu, setiap menjelang matahari bersinar, aku terduduk menantinya.

Bermula dari semburat jingga selayak senja lalu seperti terhapus oleh awan putih semarak dan kemudian muncul lagi goresan jingga itu, mulai muncullah bulatan matahari yang seolah hendak berujar, “Selamat pagi, semesta.”

Wow.

Mataku memandang tak berkedip. Posisiku yang semua duduk, langsung berdiri seiring sang matahari bergerak naik.

Luar biasa.

Kehangatan sekitarku pun lama-lama terasa.

Aku dipenuhi sukacita hanya dengan menikmati pemandangan seperti ini.

Kupejamkan mata sejenak supaya bisa lebih merasakan suasana yang sudah demikian indah mengelilingiku.

Walau tambi sudah tak bersamaku lagi, aku masih merasakan kehadirannya di sini. Senyumnya yang khas atau logat bicaranya laksana film terhampar di depan mata.

Tambi yang sederhana dan kadang berkesan tak banyak bicara ternyata mampu memberikan alasan untuk seluruh keluarga besar kembali merasa dekat dan akrab. Bahkan dari para anggota keluarga yang bisa dibilang nyaris terlupakan.

Hari kematian tambi membawa makna tersendiri.

Aku sangat bersyukur pernah mengenal tambi, pernah memiliki serta merasakan kasih sayang seorang nenek. Aku bersyukur juga hadir dalam sebuah keluarga besar yang beragam warna kehidupannya. Meski begitu, aku masih selalu bisa merasakan asal nenek moyang serta adat istiadat leluhurku tercinta.

Itu semua karena tambi dan keluarga besar ini.

^^^^^

 

Hari-hari untuk mengirim doa kepada arwah tambi di sana sudah terlaksana dengan baik. Itu berarti besok aku harus kembali ke kotaku kembali.

Ada perasaan sedih menggelayut tiba-tiba.

Bersama keluarga besar dalam beberapa hari ini rupanya meninggalkan bekas keindahan yang sulit dilupakan. Andaikata jarak dan waktu ini bisa dipendekkan lagi, rasanya tak akan sudi aku mengulangi lagi alasan karena kesibukan kerja maka terlewat banyak momen indah yang mungkin bisa jadi kenangan indah.

Mungkin begini juga saat tambi hendak kembali ke kampung halamannya saat aku kecil dulu. Tambi pasti diantara masih ingin di rumahku waktu itu apalagi kondisiku yang meraung-raung menangis atau kembali pulang.

“Makanya, jangan buang cutimu ke tempat lain, Sakti…. Mainlah ke tempat tambi dan buemu ini,” usul Mina Rita, istri anak bungsu Tambi May, adik kedua tambi almarhum.

“Iya, Mina… Aku akan usahakan mulai sekarang,” janjiku sambil tersenyum.

“Janji ya…”

Aku mengangguk pasti.

“Tahukah kamu, peristiwa apa yang menjadi keluarga besar kita bisa berkumpul begini banyak?” tanya Paman Fredi, kakak mama.

“Apa itu, Paman?”

Paman Fredi meminum dulu sisa kopinya dahulu. “Selain, hari kematian seperti kemarin yang menimpa tambi, juga hari pernikahan. Nah… Kapan hari pernikahanmu supaya kita bisa berkumpul seperti sekarang?”

Aku mendadak terdiam.

Paman Fredi malah senyum-senyum.

Walau aku tahu itu bukanlah sindiran, tapi mengingatkan tentang sesuatu yang memang berkaitan dengan diriku. Keluarga besar lain yang mendengarkan obrolan kami pun seperti mengamini. Dengan gaya guyonan khas mereka, perasaan yang sempat tak enak menyerang tiba-tiba sesaat Pama Fredi tadi berkata, beralih kembali ceria.

Karena gurau tawa inilah semakin menjadikanku serasa berat untuk melangkah pulang.

Ada rasa yang lebih indah dari semua yang kualami. Rasa tentang keberadaanku sebagai anak bangsa dan anak daerah yang masih ingin mempertahankan adat istiadatnya.

Aaahhh…

Tambi… Di surga sana kau berada, tahukah kau perbedaan anak cucumu mulai hari ini seperti tak berjarak dan tak merasa saling beda?

Aku bangga padamu mengajarkan tentang satu hal ini.

Kalau tentang pernikahan.

Hmm…. Boleh nawar nggak? Aku masih mau mengejar karir dulu. Setelah itu, janji deh, aku akan mencoba mencari pasangan hidup yang akan kuajak kemari, batinku.

Langit di atas yang membiru cerah seperti digores mendung. Tak lama ada angin semilir mengalir.

Kurasa tambi mengizinkan.

Ia sangat tahu apa yang diinginkan cucu kesayangannya ini.

Senyumku berkembang seiring waktu yang mengajak langkah kaki buat meneruskan hari-hariku lagi.

^^^^^

Tambi = nenek

Mina = tante atau bibi

Bue = kakek

(Diikutsertakan dalam “Lomba Menulis Cerpen Nasional 2017”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s