Puisi Lama sesaat bencana tsunami di Aceh, 2004 lalu…

Seorang agam berdiri sendiri,

menatap langit siang, nyaris tiada berkedip

Seorang laki-laki sekadar menyapanya, “Apa yang kau lihat Nak?”

Sang agam menunjuk satu sudut, “Lautan.”

Laki-laki itu membambangkan pandangan,

terpandang mata sebentuk pemandangan tanpa harus diterangkan

Ia bertanya lagi, “Lautan apa?”

Telunjuk kecil itu seperti mengeja satu-satu,

“Lautan Banda Aceh, Meulaboh, Aceh Jaya…”

dan kepalanya menunduk, khusuk

Bumi pun mendadak mendung, mengiring kesedihan sang agam

yang mulai tak terbendung

Dan, diiringi titik-titik bening yang tanpa halangan mengupas pipi

sang agam melirih pedih, “Pulang… Pulang…”

Serentak kekar tangan sang lelaki memeluk erat

ada sontak energi sedih menjalar di sekujur tubuh

“Dimana Abi dan Umimu, Nak?”

Sang agam tak mampu berkata

mulutnya tak mampu lagi mengiramakan yang ada di dada

sebab segala perih, rasa bahkan dua orang terkasihnya

telah menyatu pada kedalaman lautan tiba-tiba

yang serentak menyapu tanah kelahiran

meratakan sebentuk cita tentang masa depan

“Ya Ilahi, kiranya hanya kekuatanMu saja

yang kan mampu menambahkan ketabahan sang agam

atas segala cobaanMu kali ini”

Keterangan:

Agam : anak kecil

Abi : ayah

Umi : Ibu

(untuk banyak agam di Aceh, 8 Januari 2005)