Senyum matahari pagi, baru saja kuhadapi berbarengan dengan Pak Lukman, pekarya kantor,  yang memberiku setumpuk surat. Dengan senyum cerah, setumpuk surat itu kuterima cepat.

Ada tagihan koran dan telepon, , brosur pameran lukisan, promosi sebuah produk jasa, undangan rapat warga dari ketua RT, buklet  dari CCF1,  proposal kegiatan bakti sosial serta tanda terima atas paket yang kukirim kemarin.

Selamat pagi!Ulaskan senyummu,bahkan pada batu yang kakuJangan malu-malu…Maka sepanjang hari barumu
 jauh dari ragu

Sekilas aku mengingat sesuatu.

Tiap pagi, dalam perjalanan ke kantor, aku selalu bertemu seorang ibu tua. Tubuhnya yang kecil bertambah mungil karena ia membungkuk akibat usia lanjutnya. Kutaksir usianya lebih dari tujuh puluh tahun.

Saat kami bersirobok itulah, ibu tua yang entah siapa namanya itu tersenyum ramah. Senyumnya cerah seolah tak peduli dengan umur yang memakan usianya. Kaca mata plus yang bingkainya cukup besar sehingga seperti menenggelamkan pasang mata yang di ujung-ujungnya memperlihatkan kerutan kulit.

Bade angkat2, Neng?” katanya pelan.

“Iya, Bu,” jawabku merentangkan senyum ramah. Langkahku terhenti membiarkan ia untuk tidak kelelahan karena tambahan tenaga menegurku tadi. “Ibu dari belanja?”

Sumuhun3, Neng. Cucu Ibu ingin dibuatkan sop jagung.”

“Ibu masih kuat masak?”

Ibu itu memperpanjang gerutan senyum pipinya. “Masih atuh, Neng. Asal nggak terlalu banyak, Ibu masih kuat.”

Kepalaku manggut-manggut kagum. Hebat sekali ibu tua satu ini.

Mangga, Neng. Cucu Ibu menunggu,” Ibu itu tersadar sekian menit dihabiskan mengobrol denganku di pinggir jalan begini.

Tanganku mempersilahkan sambil sedikit membungkukkan badan. “Mangga, Ibu. Mangga. Hati-hati.” Ibu tua itu cuma melambaikan tangannya pelan.

Bunyi SMS mengagetkan pikiranku yang barusan berkelana. “Jangan lupa minum obatmu, sayang,”  begitu bunyi SMS yang terbaca.

Dulu Ibu yang paling telaten menyediakan obat sekaligus paling cerewet mengingatkanku untuk segera meminumnya begitu jamu telah terseduh. Sekarang, Fe, sekar4 jiwaku yang paling cerewet mengingatkan. Aku pun segera meminum obat dimaksudkan.

Sembari meminumnya, kembali aku jadi teringat akan Ibu.

Kalau sedang sakit begini, Ibuku itu paling repot menyiapkan banyak hal agar penyakitku tak bertambah parah. Makanan yang enak-enak pasti ia sajikan untukku. Padahal Ibu tahu, aku  cuma ingin sayur asem dan ikan asin peda saja. Ditambah sambal terasinya. Sedap…

Air liurku tertelan mendadak.

Selain sebab sakit, tiap kali ku pulang kampung, Ibu selalu bertanya, “Mau Ibu gorengkan peda atau beli mie ayam saja?”

Tentu saja tanpa ragu kujawab, “Dua-duanya.”

Dan, yang terjadi, semua makanan kesukaanku, tidak cuma dua itu saja, semua bisa dibelikan Ibu. Padahal cuti akhir tahunku tidak lama. Memakan makanan sedemikian banyak, pastilah aku tak sanggup. Belum lagi yang sengaja Ibu buat sendiri. Wuih… Luar biasa.

Menjelang hari akhir cutiku, yang selalu kugunakan untuk pulang kampung, Ibu juga pasti selalu repot menyiapkan oleh-oleh.

“Kacang bawang dan lempo ini buat Mas Theo, kakakmu. Kopi dan kerupuk ikan ini buat Tante Yudi dan keluarganya. Kripik dan kemplang buat teman-temanmu.”

Aku tak bisa menolak. Meski itu berarti membuat berat tas, tapi Ibu pasti sudah sedemikian rupa membungkus segala macam oleh-oleh itu ke dalam tasku. Kalau aku protes, Ibu selalu beralasan, “Kamu ini cuma sekali setahun pulang ke Lampung, masa nggak mau bawa oleh-oleh khas Lampung ini buat saudara-saudara dan teman-temanmu?”

Ya sudah.

Aku menyerah. Ibu lebih pandai bersilat lidah.

Lelakiku penjaga hati…biasan rinduku  di awan terpatri,tersenandungkan di angin,terhembuskan di  berisik alam

…Kau rasakan?

Suara telepon memaksaku beranjak ke rak telepon yang tidak jauh dari meja kerjaku. Suara di seberang menyambut sapa awalku.

Dari Fe.

Selain mengingatkan untuk tidak lupa makan siang, Fe juga pamit berangkat tugas ke luar kota mulai siang ini untuk beberapa hari ke depan. Tugas ke luar kota kali ini sudah pernah ia bicarakan sebelumnya padaku. Aku pasti mengizinkannya.

Sebagai anak bungsu,  ketika kuputuskan meneruskan studi ke Kota Kembang dilanjutkan menerusi hidup di sana, meski awalnya berat ternyata Ibu sangat mendukung apa pun yang aku lakukan. Ia tidak menuntut apa-apa kecuali aku diminta bertanggungjawab atas pilihanku sendiri. Ibu percaya, teramat percaya,  aku akan melalukan yang terbaik.

Demikian pula aku memberlakukannya  dalam hubunganku dengan Fe. Laki-laki yang kini memenuhi jeluk5 sanubari, penghias mimpi serta pengisi detik hari-hariku. Meski ia bukan laki-laki pertama yang mengeratkan hatiku dalam bentangan keindahan cinta, namun kehadirannya mampu menghapus kepedihan bahkan duka lara yang akhir-akhir ini menerpa.

Kuusap-usap foto Ibu dan aku kecil yang terbungkus dalam bingkai kaca.

Ibuku pasti bangga pada Fe. Ia bagian lain dalam hidupku yang kehadirannya selalu sangat kusyukuri. Meski Ibu belum pernah bertemu, tapi keseriusan dan perhatian Fe meluluhkan hatiku. Persis seperti yang pernah dipesankan Ibu.

“Cari pasangan hidup itu yang punya hati. Bukan cuma karena mencintai, tetapi karena lebih dalam, lahir batin mengasihi.”

Aaaahhhh… Jadi ingin bercerita banyak pada Ibu tentang laki-laki gagah, pencuri hatiku itu. Ibu pasti akan menyediakan telinga, mata dan hati. Kalau perlu sepanjang hari sampai aku puas, lepas.

“If I had to life my life without you near methe day will be empty, all night is so long…”

Alunan lagu dari radio menyeimbangkan ketegangan menyelesaikan pekerjaan walaupun hati yang merindu pada Fe dan Ibu, tak dapat kusembunyikan. Bahkan gara-gra itu pula, anganku pada kenangan lama, kembali menari-nari di depan mata.

Menurut Mas Theo, aku dan Ibu kalau kata orang Cina ciong. Maksudnya, kalau dekat hampir selalu berantam,  tetapi kalau jauh sama-sama merindu.

Aku tersenyum geli. Kembali otakku beralih di masa saat aku dan Ibu 24 jam bertemu. Saat itu memang jarang sekali kami betah diam terpaku. Pasti ada selalu mulut beradu  dari apa saja yang ada di sekeliling. Aku yang terkenal keras kepala, bertemu Ibu yang tidak mau kalah. Kalau begini, Mas Theo dan Bapak yang jadi penengah. Walau kami tak lama dibatasi perbedaan, namun cukuplah berulangkali membikinku kesal sendiri.

Saat  kami berjauhan, apa yang dikatakan kakakku benar adanya. Tak jarang saat aku ingin menelepon Ibu, tapi tak sempat atau kehabisan uang, tiba-tiba saja ia meneleponku menanyakan ini-itu. Atau  ketika belum lama ku poskan surat baginya  ternyata Pak Lukman memberikan surat bercap pos dari Bandar Lampung. Surat rindu dari Ibu.

Aku tak bisa ceritakan bagaimana sensasi ketika surat kami berselisip begini. Mengharukan sekaligus geli. Tak jarang pertanyaan di suratku telah terjawab di surat Ibu yang selisip itu.  Padahal bermaksud pemberitahuan biasa. Dan, sebaliknya.

Mataku mendadak tertuju pada tumpukan surat yang pagi tadi diberikan Pak Lukman. Tumpukan itu belum kubuka satu pun. Kubuka satu-satu. Menekuni membacanya per kalimat meski tubuhku mulai terasa penat.

Tapi, ada yang kurasa perlina5, tak ditemukan mata, meski sedemikian teliti kucari.

Ku duduk sejenak, mencoba mengingat.

Secepat kilat, ingatanku menguat.

Ah.

Sekian tempo, surat dari Ibu memang tak ku jelang. Kalimat-kalimat sederhana, dalam bentuk tulisan latin lama, penawar kerinduan tak tertahankan. Padahal jarak dan waktu sekian lama  benar-benar telah membentengi tatap mata, jabat tangan, pelukan mesra atau ucap kata kami berdua. Sepemandangan menghadirkan lagi nuansa-nuansa usang itu. Terus meresap mengusik segenap sukma.

Aku semakin rindu Ibu.

Teramat sangat, mencapai ulu.

Bukan hanya karena pengelanaan tadi, tapi ini rindu sungguh menyiksaku. Bahkan air mata, yang tak pernah bisa kutahan jika merinduku sungguh terlalu,  mulai menitik satu-satu.

Kubuang jauh pandangan. Aku tak kuat menahan rindu ini. Terselip niatan untuk pulang, menjenguk tempat Ibu tersayang beserta seluruh kenangan.

Tapi…

Kukatupkan mata. Rapat.

Hhh… Memang sebaiknya kutulis surat.

Bandung, 13 Mei 2006

Salam sejahtera,Apa kabar Ibu? Semoga  sehat selalu.Anakmu ini tidak seberapa sehat memang. Penyakit lamaku kambuh lagi. Tapi, untung ada Fe yang cerewet mengingatkanku…

 Ibu… Sekian banyak peristiwa hilir mudik, tersaji di depan mata, terekam di kepala atau menyentuh terdalam rasa. Ada yang berakhir indah, tak jarang merangsang air mata. Tapi, seperti katamu, aku bisa melewati meski tertatih  yang kadang membikinku ngeri. Namun, seperti kepercayaanmu selama ini, aku bisa melaluinya. Meski terkadang pedih menusuk hati, tapi berkat semua yang yang telah kau beri padaku selama ini, sekian kejadian tadi bisa kulewati.

Terima kasih, Ibu…

Oke, Ibu. Pekerjaanku menumpuk hari ini, harus segera selesai sebelum senja mengintip.

Sampaikan salam rindu dan sayangku buat Ayahanda. (tolong bilang, ada warung indomie yang enak di depan kantorku)

Salam dan hormat dari Fe, calon mantu Ibu. Doakan kami selalu ayem tenteram sampai altar pernikahan boleh kami hadapi bersama.

Sayangku selalu…

ananda

Di pinggiran halaman belakang kantor, terpaku ku sendiri. Aku jelepok7 menatap sebentuk amplop putih tertuju, untuk yang terkasih Ibunda Sudarmi.

Surat yang siang tadi kutulis, siap kukirim.

Wajahku menjelanguk8 ke atas langit senja. Arakan awan seolah ingin menutup tahta raja siang pada rekaman menjelang malam. Tanganku merogoh sebuah benda.

Ibu… Aku mau mengirim surat ini sekarang.

Api dari zippo milik Pak Lukman yang kupinjam, menyala. Nyala birunya merambat ke sisi-sisi amplop. Makin lama makin membesar. Aku tak kuat memegangnya. Akhirnya kubiarkan amplop yang menghangus itu menyentuh tanah. Kuperhatikan sampai api itu benar-benar melumatkan amplop beserta isi di dalamnya.

Ibu… Semoga suratku telah disampaikan angin kepada langit jingga sore ini, diapit sang bayu sepoi lembut, menuju rumahmu nun jauh di nirwana sana.

Balaslah, Ibu… Ku tunggu dalam bentangan banyak bintang benderang dan mimpiku nanti malam…

Keterangan:

1 CCF = Centre Culturel Français (Pusat Kebudayaan Perancis)2 Bade angkat = akan pergi3 Sumuhun = baik, betul4 Sekar = kembang, bunga5 Jeluk = dalam6 Pericit = kicau burung kecil5 Perlina = hilang, tidak kelihatan7 Jelepok = terduduk di lantai dengan posisi condong ke belakang8 Menjelanguk = mendongak

(anj 16)