BEGINI CARA SAYA BERDOA


Waktu kecil saya pernah bertanya pada seorang kakak, apa sih doa makan itu?

Kakak ketemu besar ini lalu mengajarkan saya berdoa makan. “Sebelum makan, kamu berdoa Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sekali saja. Begitu juga sesudahnya.”

Setelah dia memberi tahu hal itu, saya pun sempat melakukan. Tapi, lama-lama si anjar kecil ini (kira-kira SD kelas 1), mulai berpikir, “Doa makan saja kok lama bener ya? Keburu lapar.”

Lalu akhirnya, saya pun mulai berdoa Bapa Kami saja ketika awal makan dan Salam Maria saat selesai makan. Baru setelah saya lancar membaca dan menulis serta mengikuti sekolah minggu, saya baru tahu ada doa tersendiri untuk makan dan sesudah makan. Termasuk doa spontan yang bisa diucapkan kapan dan dimana saja.

Satu yang saya pelajari, saat doa makan itu adalah keharusan ucapan syukur dan terimakasih atas rezeki yang diberikan olehNya. Itu sebagai tanda bahwa kita bisa menikmati sekaligus tidak melupakan apa yang telah Ia berikan pada kita. Maka saat makan, di masa dewasa ini, saya lebih senang menyebutkan syukur dan terimakasih atas rezeki dariNya sebagai ungkapan doa sungguh dari dalam hati. Nggak sepanjang saat pertama saya diajarkan.

Sesaat setelah saya menjadi anak rantau, banyak sekali saya menemukan hal-hal di luar dugaan, Ada yang menyedihkan, ada juga yang menyenangkan. Dari awal saya keluar rumah sampai kembali masuk.

Mungkin terbawa kondisi saat pelajaran sekolah minggu dulu, saya pun mencoba merinci satu-satu apa yang telah saya alami, lihat dan rasakan selama sehari itu dalam doa. Doa yang cukup panjang itu sempat saya ucapkan sebelum tidur. Alhasil, saya suka senyum-senyum sendiri ketika mengingat atau menyesal kenapa ada yang terlewat saking banyaknya.

Oleh karena merasa kewalahan juga jika semua yang saya alami sehari itu ditumpuk dalam doa malam saja, maka saya mengganti cara untuk berdoa. Mulai saat itu, apa pun yang saya lihat, rasakan dan alami, saya coba langsung terdiam sejenak dan langsung ucapkan doa. Kebanyakan kalimat yang saya lontarkan yang singkat saja, kalau tidak “terimakasih Tuhan” atau “Tuhan berkati”.

Ketika ada kerabat yang meninggal, saya kecil pernah bertanya, “Orang yang sudah meninggal makanannya apa?”

Bapak waktu itu menjawab, “Doa dan bunga kalau kita nyekar ke makamnya.”

Tak aneh, sejak saat diberitahu itu, setiap kali nyekar kemana saja, saya pasti akan membawa bunga banyak. Buat “makanan” orang yang sedang saya kunjungi itu.

Untuk doa, selain memang sudah ada doanya sendiri, kepada siapa pun yang meninggal, doa  dalam hati adalah, “Yang berasal dari debu akan kembali lagi menjadi debu. Yang berasal dari Allah, akan kembali lagi kepada Allah.” Sementara yang sudah lama meninggal, “Beri damai dan kebahagiaan abadi kepada mereka, ya Allah….”

Pada tingkat keputusasaan saya ketika sedang menghadapi masalah dan saya sudah angkat tangan, nyerah, biasanya saya akan bilang, “Tuhan saja yang berkati.” Dengan kalimat itu sebenarnya saya sedang berdoa sungguh supaya Tuhan mau membantu saya untuk mengatasi masalah itu.

Biasanya saya lebih tenang dan konsentrasi untuk mencoba mencari solusi atas masalah itu.

Kalimat “Tuhan berkati” juga saya ucapkan sebagai tanda syukur dan kesungguhan keinginan agar Tuhan mau memberkati kepada siapa dan apa saja yang mungkin sedang ada di hadapan saya. Sekilas orang melihat itu seperti kebiasaan saja. Waktu awal-awal pun saya merasakan biasa saja, semacam kebiasaan umat Kristiani. Lama-lama saya merasakan bahwa itu bisa menjadi cara saya mendoakan orang lain agar Tuhan pun sama mau memberkati kehidupannya. Jadi, saya pun akan mengucapkan (atau menuliskan) dengan sunguh.

Di luar tradisi Gereja Katolik yang saya ikuti, saya juga memiliki banyak ritual doa pribadi yang ternyata sungguh bisa merasuk lahir dan batin. Kadang ritual ini bisa jadi sedikit “mengalahkan” tata gerak atau tradisi gereja yang ada.

Bukan bandel atau mbalelo… Saya merasa selama saya bisa khusuk menghadap padaNya dan tidak mengajak orang lain agar sama dengan saya, maka di sanalah saya mencoba menghormati sekaligus mendekati diri sendiri kepada Sang Esa. Saya juga bukan orang yang frontal mengubah ini itu kok… Hanya soal bagaimana saya merasa dekat saja.

So, ketika ada yang lebih senang berdoa dengan suara kencang, menangis bernyanyi atau bahkan sepi, saya sungguh mau menghormatinya. Saya merasa, demikianlah cara mereka mencapai rasa terdalamnya kepada Sang Khalik.Nggak berhak saya mengatakan ini benar itu salah. Lha kan yang merasa dia sendiri.

Pun demikian pula ketika ada tata gerak dalam ritual Katolik yang mungkin hendak diluruskan karena selama ini dianggap ada yang “bengkok”. Saya nggak menentang, tetapi juga nggak langsung juga bisa mengikuti.

Saya masih merasa ada bersamaNya saat diam dengan sekadar ucapan “Terimakasih Tuhan”, saja. Atau berlutut atau memilih duduk daripada berdiri. Dalam gerak pribadi itu, saya menemukan Dia sekaligus mengajaknya untuk bersama selalu mengingatkan saya. Maka, ya siapa yang tahu, ternyata saya pun bisa mengikuti aturan baru, meninggalkan kebiasaan lama.

Doa bagi saya adalah sesuatu yang amat pribadi. Ada tingkatannya sendiri hingga mencapai rasa menemukanNya. Jika ada aturan yang menganjurkan ini itu, hal tersebut adalah media dan bantuan agar kita bisa mencapai rasa menemukanNya itu. Karena media dan bantuan, sejatinya harus disesuaikan dengan diri sendiri juga. Mungkin ada yang cocok, ada yang nggak. Selama tidak mengganggu yang lain serta ritual dalam arti lebih besar, secara pribadi, saya tidak masalah karena secara global saya mengikuti semua ritual atau tradisi yang disarankan.

Ibu saya beberapa kali kehilangan barang. Kalau sudah kehilangan begitu dua nama yang disebut, nama bapak dan Santo Antonius dari Padua.

Dalam tradisi Katolik, Santo Antonius dari Padua dipercaya sebagai orang kudus yang bisa mengembalikan barang yang hilang. Jadi, nggak aneh kalau ada doa khusus untuk hal itu.

Awalnya saya percaya sekali tentang hal itu. Lama-lama saya mikir juga, emang sulap Santo Antonius dari Padua bisa langsung mengembalikan barang tersebut?

Di luar soal mukjizat, karena saya pun pernah mengalaminya sendiri berulangkali, ternyata dengan cara berdoa kepada Santo tersebut,konsentrasi saya bisa kembali. Saya jadi lebih ingat terakhir naruh/melihat barang yang hilang itu dimana atau apa yang harus saya lakukan selanjurnya. Jika barang itu memang milik saya, dengan apa yang saya lakukan selanjutnya itu bisa jadi membuat saya menemukan barang itu atau bahkan ketika harus sungguh merelakannya, saya benar-benar iklas adanya. (tidak jarang saya mendapat gantinya yang lebih baik…)

So… Dengan kondisi demikian saya merasa doa memang hal paling intim dalam diri saya. Dilakukan kapan dan dimana saja. Dan, berhubungan langsung dengan di Atas.

Saat melakukan keintiman inilah saya menemukan keutuhan hidup saya bersamaNya.

Tak pernah ada rasa penolakan. Bisa jadi hanya ditangguhkan atau berwujud beda dari kepala yang tak mungkin jauh lebih baik. Dari sinilah saya akan belajar dewasa menerima semua kondisi dengan hati terbuka.

Dan, dalam doa saya menemukan bahagia.

Bahagia bahwa saya ada teman yang bisa dicurhati segala macam tanpa takut ini itu bahkan pada kondisi paling rapuh sekalipun. (anj)

One thought on “BEGINI CARA SAYA BERDOA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s