NATAL: SEMANGAT, ORANG TUA DAN PERNAK-PERNIK


Setidaknya 3 hal yang selalu teringat dalam Natal yang putih: semangat, orang tua dan pernak-pernik Natal.

Semangat bisa jadi menjadi yang utama. Bahkan seisi roh dalam tubuh ingin bergerak untuk mempersiapkan natal. Rajin ke misa pagi, dengan intensi agar dosa dihapuskan dan natal menjadi lengkap karena “bersih” dari dosa. Rajin ke Panti Sosial, dengan harapan menjadi aktivitas berbagi, agar natal menjadi lengkap karena “peduli sesama”.  Kalau saya sendiri, mengambil bagian pada yang pertama: rajin ke misa pagi. Pertama-tama bukan karena ingin bersih, tetapi karena kebetulan sudah cuti kerja untuk liburan natal. Tentu menjadi kebiasaan sejak kecil, ke gereja, ke misa pagi; tapi hal ini sulit dilakukan saat beranjak dewasa. Bahkan kebiasaan yang dilatih sejak di asrama dan biara ini lenyap begitu saja. Setelah bekerja sebagai jurnalis yang sering-sering menjadi penyiar dan pembawa acara, Hari Tuhan bagi saya adalah Selasa dan Rabu. Ya. Karena Selasa dan Rabu dalam 5 tahun terakhir menjadi hari libur dari pekerjaan saya. Saya mengejar misa pada 2 hari itu; jadi jangan mencari bayangan saya di gereja pada Sabtu atau Minggu. Hehehe. Natal (ataupun Paskah), lagi-lagi adalah kesempatan untuk ke gereja setiap hari. Tahun ini, saya cuti sejak 19 Desember, dan setiap hari, otomatis mata saya terpejam pada subuh dan akan bersemangat sekali ke misa pagi. Misa pagi di pekan natal bagai nuansa nostalgia masa-masa dibalik tembok.

Orang Tua. Ini adalah tahun ke 3 bagi saya, merayakan natal tanpa Mama, dan tahun ke 5 merayakan natal tanpa Papa. Keduanya dipanggil Tuhan dalam 5 tahun terakhir tugas saya sebagai jurnalis. Natal di kampung halaman bagi saya sebenarnya tidak berarti apa-apa lagi, selain karena 2 orang penting itu. Tapi tahun ini, setelah 2 kali natal tanpa Mama, hari-hari sebelum natal dipenuhi mimpi untuk pulang ke Manado. Ya. sejak kecil kami punya tradisi untuk ziarah makam. Waktu kakak nomor 2 meninggal dunia di 1998, Mama Papa mengajarkan kami untuk berdoa untu arwah. Bahkan seingat saya, 1 tahun pertama Kakak mangkat, Mama dan Papa selalu ke kuburan setiap pekan untuk menyalakan lilin dan berdoa. Ya, maklum saja kalau saya mimpi disuruh pulang. Dua kali natal, saya tidak pernah pulang menyalakan lilin dan doa di makam Mama Papa. Tapi natal bagi saya adalah kenangan akan orang tua. Orang tua yang sudah menghadirkan saya ke dunia. Berkali-kali natal saya tidak bersama mereka; tapi bagaimana mereka menghadirkan diri mereka untuk saya dengan rupa-rupa cara: mengirim kue, menulis surat natal dan sebagainya. 5 kali saya natal di dalam tembok biara, Mama Papa selalu hadir dalam semangat itu sendiri meski tidak dengan fisik. 2 kali natal saya berada di “Begijnhoff”, 4 kali natal saya merayakannya dalam tugas. Sudah 11 kali natal saya merayakannya dalam hati. 20 kali natal sebelum itu semua, saya bersama orang tua: merasakan dibelikan baju baru, jalan-jalan liburan dan mengalami misa natal di gereja paroki. Natal kali ini, natal ke 32, saya berada di tempat saya dilahirkan.

Pernak-pernik. Saya tidak pernah absen memasang pohon natal. Sejak SD, saya menjadi penghias pohon natal di rumah. Setelah lulus SMA, Mama kehilangan tukang pasang pohon natal. Waktu kuliah, di kosan saya juga ada pohon natal kecil: sampai sekarang di rumah kontarakan saya. Waktu di balik tembok, kandang natal saya selalu menjadi favorit. Paling bagus, dan pasti dipuji oleh Romo Magister. Ya. Di gereja paroki, dulu, saya dan tim OMK waktu SMA pernah juara 1 membuat kandang natal se paroki. Natal bagi saya juga adalah kue, makanan dan jalan-jalan. Nah yang terakhir, kalau waktu di Manado, jalan-jalan pasti keliling kampung. Yang berkesan dalam hidup adalah 2 kali natal di “Begijnhoff”, (jadi Beginjhoff ini adalah nama buatan saya sendiri terhadap sebuah tempat di Belanda yang paling mengesankan, dimana itu, hanya saya dan Tuhan yang tahu). Lalu 1 kali natal di Peru.  2 kali adalah pelarian, 1 kali lainnya adalah tugas jurnalistik. Tapi natal-natal itu memang terasa lebih bersalju dan dingin. Seharusnya tahun ini, bahkan saya membatalkan janji dengan Anjar Anastasia untuk singgah ke Generalat OSC mengambil titipannya, natal tahun seharusnya misa di Basilika Santo Petrus, gagal karena hari cuti hanya sedikit, dan paspor mau habis dalam 6 bulan, sementara urusan paspor dapat jatah online nanti Januari. Ya sudah.

Semangat, orang tua dan pernak-pernik natal bagiku. Bagimu?

Aryaduta Hotel Manado, 21 Desember 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s