BELAJAR TENTANG TUAN RUMAH


Gempa Lombok, tahun 2018 bukan hanya menyisakan luka secara nasional, tetapi menciptakan doa internasional ketika perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta yang mengajak dunia yang tengah menonton mengingat dalam doa derita warga Lombok. Selang 29 Juli hingga 30 Agustus 2018, BMKG mencatat 1.973 kali NTB diguncang gempa; mulai yang terbesar dengan kekuatan 7 SR hingga gempa susulan sedang dan kecil mencapai ribuan kali. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB: guncangan di NTB ini meruntuhkan berbagai sendi kehidupan; 396.032 jiwa terserabut dari kehidupan sosialnya karena harus menjauh dari rumah agar aman, tinggal di tenda-tenda yang serba terbatas dalam memberikan kecukupan kebutuhan dasar. Dari yang ratusan ribu tadi, 540 jiwa tak beruntung melanjutkan hidup; meninggal dunia tertimpa bangunan maupun longsoran. Pemerintah mencatat 83.392 rumah rusak dan tentunya harus direhabilitasi. Sementara sejumlah 1.469 jiwa tengah berjuang untuk pulih dari cidera di rumah-rumah sakit di seluruh NTB. Akhir dari semua derita tadi, pemerintah kini bertugas memulihkan kerugian yang dihitung sekitar 8,8 triliun rupiah.

Video: Menghadapi Gempa Bumi: Woles Biar Selamat!

Luka Lombok, luka NTB, luka bersama. Itulah kesatuan kita sebagai sebuah bangsa. Namun kita belum banyak belajar dari saudara di Aceh, di Yogyakarta, di Sumatera Barat, di Mentawai. Jika dihitung, pernah ada sejarah ratusan ribu jiwa darah Indonesia yang pernah menjadi korban di tempat-tempat tadi. Kita pernah belajar, tetapi belum memprioritaskan. Ada lebih 500 nyawa melayang, artinya harus menjadi awal untuk kesekian kali bersiap diri, semakin serius belajar: bencana dapat datang kapan saja, ia tidak pernah permisi, tapi kearifan kultur kita biasanya belajar bagaimana dia memberi firasat, lalu tinggal bagaimana membiarkan ia datang, tanpa kita tidak harus menjadi korban.

Video: Wawancara Carlos Michael di BeritaSatu TV dengan Surono, Mantan Kepala Geologi, Surono berkali-kali menekankan kita sebagai warga adalah tamu dan harus memahami tuan rumah. Analogi Surono yang pas menggambarkan antara alam dan manusia.

Selalu mengingat perkataan Mbah Surono, mantan Kepala Badan Geologi yang selalu bilang begini: “Alam lebih dulu ada, kita yang datang bertamu. Kita harus terima jika tuan rumah harus menyapu”. Jika kita bertamu, maka kita harus mengenal tuan rumah. Maka gempa bumi, ataupun pergerakan alam, marilah menghayatinya sebagai aktivitas rumah tangga alam. Alam harus bergerak, maka sebagai tamu kita harus tahu apa langkah kita saat alam ingin bergerak. #Kenalibahayanyakurangiresikonya. Mengenal tanah tempat kita berpijak artinya memahami ada apa di dalam sana, memahami bahwa pijakan ini bukan milik kita, ia ada untuk dirinya sendiri: ia adalah alam, dan manusia hanya bagian terkecil dari harmoni yang tertata di dalamnya. Warga NTB ataupun kita seluruh kaki yang berpijak di tanah air yang memiliki resiko bencana yang besar ini harus semakin belajar: bagaimana cara kita membangun rumah agar tahan gempa, bagaimana kita paham cara menyelamatkan diri. Tak ada nyawa yang melayang, apalagi di zaman modern dengan kecanggihan teknologi semacam ini, jika kita mengenali tanah tempat kita berpijak.

Indonesia yang kaya ini, menjadi sempurna karena kita punya warisan kearifan, filosofi hidup dan kebudayaan yang terbentuk dari cara turun menurun manusia bangsa kita dalam mempertahankan diri. Zaman boleh berubah, tetapi lalu kearifan membangun rumah tahan gempa lantas ditinggal. Zaman boleh berubah, tetapi lalu warisan budaya untuk gotong royong, saling mengingatkan menjadi terabaikan. Kearifan itu buah kebudayaan, buah kebiasaan yang dihidupi dengan penuh kesadaran oleh nenek moyang bangsa. Budaya sadar bencana sebenarnya terkandung dalam kearifan-kearifan itu, maka tak ada nyawa melayang jika kearifan itu bisa menjadi pedoman bagi kita untuk mengingat kembali ajaran leluhur dan semakin mengingat pentingnya #budayasadarbencana. Sebagai tamu, kita harus sadar, bencana akan datang, tuan rumah akan bergejolak, dan tamu harus berpindah, tamu harus mengalah. Sadar diperlukan, maka dengan begitu kapanpun kita siap. Kerendahan hati terhadap alam, mencintai alam, belajar karakternya, mengalah kepada aktivitasnya akan membuat kita #siapuntukselamat.

NTB tidak akan menjadi akhir dari sang Tuan bergerak sesuai tuntutannya, tetapi semoga NTB menjadi akhir dari adanya data memprihatinkan banyaknya nyawa melayang karena kita tidak belajar mendalam kepada alam.

Carlos Michael Kodoati. 2018.